Penerimaan Mahasiswa Baru

Program S2 Musik Gereja

Sumbangan Teori-teori Komunikasi Lintas Budaya
bagi Pemecahan Aspek-aspek Gegar Budaya yang Dialami Masyarakat Manokwari.
(Kajian Data Sekunder Artikel di Majalah Berita Oikoumene, Mei 2007, h.14-19 dan 24-26)

Mianto Nugroho Agung

 

Abstract:

The Christian in Manokwari has a proposal to plan the city become the Gospel City.  The background of this aim is to protect Manokwari from culture shock and to keep the history of the city as a place where Gospel was spreaded for the first time in Papua.  Many reactions come from the non-Christian toward the proposal.  This paper wants to observe the problem and to try to solve the problem theoretically, especially from the theories of Cross culture communication.

Keywords: culture shock, Gospel City, Manokwari, Island of Integrity, clash of civilization, communication of cross culture

Pemilihan topik ini didasarkan pada pertimbangan keterbatasan dan rendahnya daya jangkau bila harus melakukan penelitian lapangan yang sebenarnya untuk mendapatkan informasi mengenai gegar budaya pada suatu masyarakat. Informasi yang demikian tentu menuntut dipenuhinya metodologi pengumpulan data yang ketat baik data lapangan maupun sekunder. Pertimbangan kedua, terbatasnya waktu yang tersedia. Mengingat informasi mengenai gegar budaya pada masyarakat tertentu haruslah yang bersifat budaya, dalam arti sesuatu gegar budaya itu dialami dalam kurun waktu tertentu dan berpotensi berkembang, maka jika hanya menggunakan waktu yang ada, tentulah kadar kegegarbudayaannya sangat rendah dan karena itu belum memadai untuk digeneralisasi baik untuk obyek penelitian itu maupun masyarakat yang lebih luas lagi. Ketiga, setelah meneliti beberapa data sekunder –khususnya dari media masa- ternyata cukup banyak ditemui aspek-aspek gegar budaya yang terjadi pada masyarakt tertentu yang teronggok begitu saja dan tinggal menjadi barang loak. Misalnya, di harian umum KOMPAS saja terdapat aneka informasi mengenai gegar budaya sesuatu masyarakat: korban gempa bumi di Yogyakarta yang harus menghuni rumah dome, masyarakat Bali yang resah akan jati diri mereka akibat adanya perkembangan agama-agama non-Hindu, komplain masyarakat Bandung dan Bogor akan adanya gereja-gereja di lingkungan mereka, dan lain-lain. Padahal, di sisi lain, mendia massa lainnya seperti Berita Oikoumene terbitan PGI, Warta Jaringan terbitan JKLPK, Tetruka terbitan Trukajaya, Jurnal Kajian Sosial Interdisipliner Bina Darma, dan lain-lain juga tak kurang seringnya menyajikan artikel mengenai atau yang bermuatan gegar budaya dan peran komunikasi lintas budaya ini.

Pilihan terhadap topik ini juga didasarkan pada aktualita dan signifikansinya dengan aspek-aspek misi. Selain itu, gagasan mengenai keistimewaan sesuatu wilayah berdasarkan latar belakang kekristenan ini juga menarik. Karena, mayoritas umat Kristen Indonesia sedang bekerja keras menegakkan keadilan dengan menolak produk hukum formal yang diskriminatif khususnya Perda-perda Syariat. Proposal Manokwari tentu akan menjadi tonggak –entah baik atau buruk- bagi perjalanan misi di Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Tujuan penelitian ini adalah: a) Untuk mengetahui aspek-aspek penting mengenai Proposal Manokwari untuk menjadi Kota Injil, b) Untuk mengetahui aspek-aspek gegar budaya yang dialami oleh masyarakat Manokwari khususnya melalui fenomena proposal Manokwari, dan Untuk mengetahui sumbangan yang relvan dari teori-teori komunikasi lintas budaya bagi upaya memecahkan masalah gegar budaya masyarakat Manokwari.

Penelitian ini secara khusus dan sepenuhnya menggunakan data sekunder dan karena itu pokok perhatian penelitian adalah kepada aspek-aspek penting mengenai Proposal Manokwari, aspek-aspek penting yang bernilai gegar budaya masyarakat Manokwari, dan sumbangan teori-teori komunikasi lintas budaya bagi upaya memecahkan masalah gegar budaya masyarakat Manokwari.

Penelitian ini mendapatkan informasi dengan cara menggali data sekunder yang tersedia dalam Majalah Berita Oikoumene Mei 2007 terbitan PGI halaman 14-19 dan 24-26. Melalui metode resensif, dipilih, dipilah, dan disistematisasi menjadi serangkaian informasi yang memadai untuk membimbing menuju pemahaman komprehensif mengenai topik. Penelitian ini menggunakan semacam analisis kritik teks, dalam arti menelaah data sekunder kemudian mencoba menemukan aspek-aspek yang berkaitan dengan key words untuk menguji hipotesis yang diajukan Adapun hipotesis yang diajukan adalah: Terdapat sumbangan yang signifikan dari teori-teori komunikasi lintas budaya bagi upaya  mengatasi masalah gegar budaya pada masyarakat Manokwari.

Penelitian ini penting dilakukan untuk mendapatkan gambaran gegar budaya masyarakat Manokwari akibat berbagai hal. Selanjutnya, penelitian ini juga penting untuk mengetahui bahwa teori-teori komunikasi lintas budaya juga memiliki kemampuan menjadi alat problem solving bagi masalah-masalah gegar budaya. Jika terbukti benar, diharapkan hasil penelitian ini menjadi –minimal- rujukan penyusunan conflict resolution/healing guiding yang antisipatif dan visioner. Secara praktis, bagi penulis, juga menunjukkan kaitannya dengan strategi misi apa yang sesuai dengan kondisi aktual ladang-ladang misi semacam Manokwari tersebut.
 

Aspek-aspek Penting Tulisan h.14-19

Pada halaman 14-19, di bawah rubrik NASIONAL, terdapat dua tulisan reportatif mengenai kunjungan (13-15/4) Deputi Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertingal Bidang Pembinaan Lembaga Sosial dan Budaya Drs. Michael Menufandu yang merupakan putra daerah. Kunjungan itu kemudian disertai oleh Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Anderas Yewangoe, Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia Pdt. Gomar Gultom, dan Staf Isu-isu Publik Pdt. Feybe Lumanauw. Dan, reportase yang lain, tentang aksi demo masyarakat Manokwari di Kantor PGI Jl. Salemba Raya, Jakarta (13/4).

Dari reportase pertama berjudul ‘Ranperda Manokwari sebagai “Kota Injil”’ didapat informasi:

  1. Isu rencana pemberlakuan Ranperda Kabupaten Manokwari sebagai Kota Injil telah merebak dalam dua bulan terakhir ini dan mejadikannya sasaran berwacana –bahkan penolakan- pihak-pihak non-Kristen (tokoh lintas agama) baik di Manokwari, Papua, maupun di Jakarta.
  2. Titik awal ‘konflik’ adalah usulan gereja di Manokwari dalam Semiloka 1-2 Februari 2007 dalam rangkaian acara perayaan 152 Pekabaran Injil di Papua dan diikuti Gereja Kristen Injili (GKI) Tanah Papua yang mendeklarasikan Pulau Mansinam sebagai Pulau Injil dan Manokwari sebagai Kota Injil pada 5 Februari 2007.
  3. Oleh masyarakat dan pemimpin gereja di Papua Ranperda itu merupakan aspirasi murni umat Kristen di Manokwari untuk menjaga eksistensi kekristenan di tanah Papua yang sudah dimulai dari Pulau Mansinam, Manokwari pada 5 Februari 1855.
  4. Munculnya Ranperda Manokwari ‘Kota Injil’ bukan merupakan respon terhadap maraknya pemberlakuan perda bernuansa agama di sejumlah daerah di Indonesia ataupun pemberlakuan syariat Islam di Nanggroe Aceh Darrussalam. Ranperda ini telah disiapkan melalui pengkajian mendalam dan mengalami tiga kali perubahan (dari Ranperda Penyelenggaraan Pembinaan Mental Spiritual, Ranperda Manokwari Kota Injil, hingga akhirnya Ranperda Manokwari sebagai Daerah Injil).
  5. Dasar munculnya Ranperda ini adalah (1) kekristenan di Papua yang terancam kehilangan jati diri, (2) secara historis eksistensi tanah Papua sebagai wujud nyata kehadiran Injil sejak 5 Februari 1855, (3) sumbangan Injil bagi proses modernisasi Papua, (3) kenyataan bahwa kota Manokwari merupakan kota hasil penginjilan dan kota awal mula penginjilan di Tanah Papua, dan (4) upaya menjaga eksistensi Injil di Tanah Manokwari dan Papua.
  6. Substansi Ranperda tersebut adalah Injil, nilai-nilai budaya, dan aturan main yang sesuai dengan UU Otsus Papua. Dan, pokok-pokok Ranperda itu adalah: menekankan peningkatan mutu kehidupan masyarakat melalui pembinaan mental spiritual, daerah otonom, masyarakat adat, dan Injil (dalam arti: kabar baik yang menyatakan mulainya pemerintahan Allah di dunia ini oleh kedatangan Yesus Kristus dengan memberikan kehidupan baru dengan nilai-nilai kekudusan, kasih, perdamaian, persekutuan, kesejahteraan, keadilan, kemitraan, dan keterbukan.
  7. Terdapat pasal-pasal yang bertentangan, misalnya, Pasal 14 Bab III tentang Hak dan Kewajiban yang ditegaskan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berekspresi dalam menghayatidan melaksanakan tata peribadatan sesuai dengan agama yang dianutnya. Ini bertentangan dengan Pasal 28 Bab IV (2) tentang Pelaksanaan Pembinan Mental Spiritual yang menegaskan tentang penghentian aktivitas publik pada hari Minggu, Pemda menetapkan hari-hari besar gerejawi sebagai hari libur resmi daerah dan peniadaan aktivitas publik. Dalam Pasal 30 ditegaskan bahwa jika pada suatu kampung telah ada sarana peribadatan yang diperuntukkan bagi penduduk asli Papua, maka tidak dapat dibangun sarana peribadatan bagi penduduk yang menganut agama lain.
  8. Sikap dan realitas PGI atas wacana ini adalah (1) meminta dilakukan pengkajian lebih mendalam sehingga Injil yang merupakan kabar baik itu dapat mendatangkan sukacita bagi masyarakat, (2) Injil bersifat luas dan tidak dapat dibatasi dengan perda semata, (3) masyarakat Manokwari perlu menjaga nilai (hak) sejarah tetapi sebaliknya juga menghindari eksklusivitas, (5) sikap dan pernyataan PGI bersifat normatif dalam kerangka kebangsaan, (6) PGI dalam posisi dilematis, di satu sisi PGI harus konsisten dengan sikap  yang menolak perda-perda bernuansa agama, di sisi lain PGI merasa prihatin dengan keberadaan masyarakat asli Papua di daerah sendiri, (7) untuk itu, PGI akan meningkatkan kepedulian terhadap perbaikan kesejahteraan masyarakat dan penegakan HAM di Papua.
  9. Ranperda ini ditolak oleh sejumlah organisasi Islam seperti MUI, Muhammadiyah, NU, KAHMI, HMI, dan Badan Pemuda dan Remaja Mesjid. Alasan mereka, setiap warga negara dijamin kebebasannya untuk memeluk agama yang diyakininya serta melaksanakan ibadah menurut ajaran agama yang dianutnya. Kedatangan penginjil Ottow dan Geisler dianggap tidak dapat dilepaskan dari peran dan jasa orang-orang Islam dari kesultanan Tidore sehingga Pulau Manisnam harus juga dianggap sebagai saksi sejarah tentang hakekat kebersamaan, toleransi, dan kerukunan yang terjalin antara dua agama samawi yakni Kristen dan Islam.

Sementara itu di reportase kedua, berjudul ‘Aksi Demo Masyarakat Manokwari di Kantor PGI’, terdapat aspek-aspek penting yang berkaitan dengan kegegarbudayaan masyarakat Manokwari, yaitu:

  1. Demo diikuti sekitar 50 massa yang mengaku wakil rakyat Manokwari yang ada di Jakarta.
  2. Spanduk pernyatan sikap mereka berisikan tulisan, antara lain, Kami Tidak Percaya PGI lagi, PGI ke Manokwari Mau Bikin Apa, PGI Jangan Pecah Belah Kami Orang Papua, Kenapa Pemerintah Mau Pakai Lembaga PGI yang tidak Diercaya Orang Papua, PWKI Manokwari Menyatakan bahwa Manokwari Harga Mati Kota Injil, dan PGI jangan Cari Muka dengan Pemerintah dan Menghambat Perda Kota Injil.
  3. Tokoh-tokoh pendemo adalah Pdt. S. Manufandu (Sekretaris BKAG Manokwari), Pdt. Herman Awom, Lazarus Indau (tokoh Arfak), Pdt. ML Wanma (Ketua GKAI Papua), Marihen Wauw (Kepala Suku May Barat).
  4. Pokok demo mereka adalah (1) mempertanyakan motivasi kunjungan PGI, (2) menilai bahwa PGI ‘lompat jendela’ karena kunjungan tersebut tanpa sepengetahuan Sinode GKI di Tanah Papua. PGI dianggap tidak menghargai GKI, lamban dalam bertindak, dan tidak berpihak ke gereja melainkan ke pihak lain serta menjadi alat peperintah.
  5. Ranperda ditegaskan murni dari keinginan gereja (bukan keinginan bupati) dan telah dideklarasikan pada 5 Februari 2007. Kedatangan PGI ke Manokwari ke Manokwari terlalu cepat karena Raperda masih berupa wacana.
  6. Dasar munculnya Ranperda ini adalah (1) kuatnya proses Islamisasi di Papua, dan (2) pertumbuhan gereja dihambat.
  7. Sikap PGI jelas, yakni tidak dalam posisi menghambat, menolak, dan menyetujui Ranperda Manokwari Kota Injil, tetapi kunjungan itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepedulian PGI dan upaya mendapatkan informasi sejelas-jelasnya agar bisa menjawab pertanyaan gencar dari berbagai pihak selama ini.

 

Aspek-aspek Penting Tulisan h. 24-26

Tulisan dalam halaman ini masuk dalam rubrik KAJIAN dan menampilkan tulisan Pdt. Dr. Karel Phil Erari dosen STT IS Kijne Abepura yang berjudul ‘Manokwari Kota Injil: Menuju Island of Integrity’. Bagian-bagian pentingnya adalah:

  1. Tulisan diacu oleh pengutusan penulis sebagai bagian Tim Sinode GKI untuk menemui delegasi Jakarta yang dimotori Deputi I Kantor Kementrian KDT Drs. Michael Manufandu.
  2.  Menurut Pdt. Erari, kunjungan delegasi Jakarta untuk melakukan fact finding itu dianggap melecehkan GKI karena delegasi Jakarta tidak menghubungi Sinode GKI terlebih dahulu.
  3. Pertemuan diadakan di Ruang gereja Elim, Kwami Manokwari di pinggir Telok Doreri berhadapan dengan Pulau Mansinam yang bersejarah. Pada tanggal 2 Februari 1855 kapal Ternate mendarat dengan aman dan ketika Otow dan Geisler menjejakkan kaki di sana diucapkan kata “Dalam nama Tuhan, kami injak tanah ini” yang kelak menjadi doa sulung dan terukir indah dalam sejarah PI di tanah Papua. Dan, sejak tanggal itu pula Pulau Mansinam dimateraikan sebagai Pulai Injil.
  4. Alasan penetapan Manokwari menjadi Kota Injil adalah (1) kesadaran intelektual Kristen dari semua denominasi gereja di seluruh Papua bahwa aspek historis Manokwari yang merupakan pintu gerbang masuknya Injil beserta perubahan dari peradaban tradisional papua menjadi moderen patut dilestarikan dalam suatu komitmen moral dan spiritual, (2) pencanangan dan penetapan itu merupakan pilihan iman yang tetap didasari kesadaran historis, spiritual, kemajemukan, dan kekhasan Manokwari, (3) adanya realitas politis yang penuh tantangan, (4) bukan karena mereaksi puluhan Perda lainnya yang bernuansa syariah di daerah lain di Indonesia, (5) Ranperda pada hakekatnya merupakan suatu upaya penyelamatan rakyat Papua agar prinsip-prinsip dan nilai-nilai tetap dijunjung tinggi dan menjadi solusi bagi perkembangan kota yang mengalami dekadensi moral (maraknya prostitusi, dan pornografi), (6) Injil bagi orang Papua tinggal satu-satunya warisan yang dimiliki setelah seluruh milik mereka habis dirampok selama 45 tahun menjadi bagian NKRI, (7) ribuan rakyat Papua mati dibantai sementara yang hidup semakin tersisih dan terabaikan dan hanya berharap dan bersandar pada Injil untuk bertahan hidup, (8) upaya menyelamatkan masyarakat Papua yang sedang bergumul untuk menemukan identitas mereka. (9) Injil merupakan segala-galanya bagi rakyat Papua yang menyatukan mereka, menyelesaikan konflik, membuka jalan pergaulan lebih luas dengan budaya dan bangsa Melayu serta peradaban baru, pendorong asimilasi, (10) Injil –bukan Pancasila-  adalah landasan pijak gereja untuk memilih bergabung dengan NKRI,  dan (11) Injil telah menjadi alat transformasi bagi kecurigaan antara orang Papua dan Amber (non-Papua). Atas dasar itu, bila Manokwari dipersiapkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Injil yang menyebarkan kebaikan sesungguhnya dimaksudkan untuk memperbaiki seluruh keadaan yang tergelincir ke jurang kebobrokan sehingga bisa berubah menjadi wilayah yang baik dan bersih dan kelak bisa menjadi island of integrity.

 

Manokwari Sepintas Kilas[1]

Manokwari adalah sebuah kabupaten di Propinsi Papua Barat. Ibu kotanya Manokwari. Pada masa penjajahan Belanda, kota Manokwari merupakan ibu kota Afdeeling (Karesidenan) West Nieuw Guinea yang merupakan salah satu dari enam afdeeling yang ada pada masa itu. Kabupaten ini terletak di sebelah timur kepala burung Papua. Wilayahnya di Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik (Lautan Teduh), di Timur dengan Teluk Cendrawasih, di Selatan dengan Kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Paniai, dan di Barat dengan Kabupaten Sorong. Luas Wilayahnya 40.000 kilometer persegi, terbagi atas 12 kecamatan dan 69 desa. Jumlah penduduknya 114.59 pada tahun 1987.

Keadaan alam. Wilayah kabupaten dibedakan atas tiga wilayah. Di bagian Utara adalah Wilayah Pegunungan Tamrau-Lina; di wilayah ini terdapat pegunungan Arfak dengan puncaknya Umsini dan Pegunungan Lina dengan puncaknya Gunung Togwomeri (2.680 meter). Pegunungan ini terutama terdiri atas batuan beku. Keadaan lerengnya curam, terutama di sebelah utara. Di bagian tengah adalah Wilayah Perbukitan Ayamaru. Di bagian Selatan adalah Dataran Rendah Berau-Bintuni.

Kabupaten ini beriklim tropis basah, dengan curah hujan rata-ratanya tinggi (1.500 – 3.000 milimeter per tahun), kecuali di daerah sebelah Timur kepala burung yaitu daerah Tanahbrubu sampai daerah Waren. Di daerah ini curah hujannya berkisar 0 – 1.5000 milimeter per tahun. Suhu udara 23 – 31 derajad Celcius dengan kelembapan udara 85 %.

Penduduk. Penyebaran penduduknya tidak merata. Daerah yang paling banyak penduduknya adalah Kecamatan Manokwari (49.958 jiwa) dan hanya sebagian kecil penduduk yang tinggal di Kecamatan Windesi (2.032 jiwa). Kepadatan penduduk kabupaten ini masih sangat jarang (3 jiwa per kilometer persegi tahun 1987). Daerah terpadat penduduknya adalah Kecamatan Manokwari (19 jiwa per kilometer persegi) dan terjarang Kecamatan Wasior, Kecamatan Babo, dan Kecamatan Merdey (kurang dari 1 jiwa per kilometer persegi).

Sebagian besar penduduknya memeluk agama Kristen (71 %), Katolik (8%), selebihnya Islam (20%), Hindu dan Budha. Sarana peribadatan yang ada terdiri atas 40 mesjid, 28 gereja Katolik, dan 273 gereja Kristen.

Tingkat pendidikan penduduk relatif masih rendah karena masih kurangnya sarana pendidikan. Namun di Kabupaten ini telah dibangun dua perguruan tinggi yaitu Faperta Universitas Cendrawasih Manokwari (dengan beberapa jurusan, seperti jurusan Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Pengawasan) dan STIH Manokwari. Sarana pendidikan yang lain meliputi 21 TK, 157 SD, 24 SMP, 6 SMA, dan 1 SMEA.

Sebagai sarana kesehatan tersedia 4 rumah sakit pemerintah, 2 rumah sakit ABRI, 12 Puskesmas, 15 BKIA, 4 balai pengobatan umum, dan 1 balai pengobatan gigi, 217 perawat dan 12 bidan. Untuk pengadaan obat baru terdapat 2 buah apotek dan 2 toko obat.             Perekonomian kabupaten ini bertumpu pada bidang pertanian. Hasil tanaman pangan adalah padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang hijau, dan keladi. Di samping itu, daerah ini juga menghasilkan sayur sasuran dan buah-buahan.

Luas areal perkebunannya 9.431 hektar, terdiri atas perkebunan besar (7.505 hektar) dan perkebunan rakyat (1.926 hektar). Perkebunan rakyat meliputi perkebunan karet, kopi, cengkeh, kelapa, pala, cokelat, dan tebu. Perkebunan besarnya meliputi perkebunan cokelat dan kelapa. Ternak yang dipelihara adalah sapi, kuda, kambing, domba, babi, itik, ayam ras, dan ayam kampung. Penduduk yang tinggal di sepanjang pantai hidup sebagai nelayan.     Hasil hutan berupa kayu gelondong (38.872 meter kubik), kayu gergajian (2.303 meter kubik), chipwood (31.846 meter kubik) dan minyak lawang (2 ton). Kayu ini sebagian besar diekspor. Komoditi ekspor lain ialah cokelat.

 

Kecamatan di Manokwari (1987)

 

Kecamatan

Luas (km2)

Jumlah Penduduk

1. Manokwari

2. Ransiki

3. Bintuni

4. Warmere

5. Amberbaken

6. Oransbari

7. Windesi

8. Wasior

9. Kebar

10. Anggi

11. Merdey

12. Babo

2.590

1.520

6.160

1.640

1.610

380

650

7.150

1.880

1.020

6.130

9.270

49.985

8.778

7.317

17.987

2.185

3.086

2.032

6.450

2.513

6.457

3.487

4.312

 

Aspek-aspek Gegar Budaya pada Masyarakat Manokwari

Gegar budaya (culture Shock) dari sisi orang yang bermigrasi adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lain daerah kebudayaan. Gegar budaya, dari sisi masyarakat yang menjadi tujuan migrasi adalah keadaan kebingungan setelah melihat budaya sendiri goyah, rapuh, tidak fungsional akibat membandingkan dengan kebudayaan pendatang. Gegar budaya lahir akibat perbenturan peradaban (clash of civilisation) baik yang ekstrem maupun yang gradual. Jika pada yang ekstrem gegar budaya terjadi sesaat setelah pendatang melancarkan ekspresi ekslusifnya di hadapan masyarakat yang didatangi sehingga mereka gegar, maka yang gradual baru menimbulkan gegar budaya setelah beberapa lama berlangsung aksi cuci otak dan internalisasi budaya pendatang ke budaya yang didatangi. Pada titik tertentu, ketika eksistensi diri yang didatangi disadari, biasanya masalah atau penyakit sudah sedemikian akut dan jika ditangani tidak hati-hati akan menimbulkan konflik horisontal yang massif.

Apa yang dialami masyarakat Manokwari jelas merupakan reaksi atas kenyataan eksternal (berhubungan dengan out group, mereka) dan internal (berhubungan dengan in group mereka, menurut Schwezer dalam Mulyana dan Rakhmat). Kenyataan eksternal mereka adalah meningkatnya dekadensi moral yang ditandai oleh maraknya prostitusi dan pornografi. Selain itu, mereka juga prihatin dan terancam eksistensi mereka dengan meningkatnya Islamisasi, penghambatan gereja, pembunuhan orang Papua, dan perampokan harta kekayaan mereka. Jauh dari lingkungan mereka, mereka melihat kenyatan bahwa terdapat arak-arakan pembuatan dan pemberlakuan Perda bernuansa agama yang dimungkinkan diberlakukan oleh NKRI. Kenyataan eksternal yang –baru- disadari itu memberi informasi mengenai konstelasi diri dalam kancah pergaulan berbangsa, bernegara, dan beragama. Dan, mereka mendapati diri mereka tertinggal demikian jauh bahkan bergerak mundur akibat dekadensi moral dan perlakuan tidak adil yang secara sistematis diterapkan pada mereka.

Kenyataan internal masyarakat Manokwari adalah kesadaran akan jati diri mereka yang diabaikan, kenyataan bahwa mereka adalah orang Melanesia yang jelas berbeda dengan orang Melayu, kenyataan bahwa mayoritas mereka adalah Kristen namun dihambat, kenyataan bahwa kekristenan di Papua dimulai dari Pulau Mansinam di Manokwari namun justru di Manokwari terjadi dekadensi moral yang hebat dan terjadi islamisasi yang menggebu, kenyataan bahwa hanya Injil yang mampu memberdayakan mereka namun Injil mulai diabaikan dan diganti dengan budaya baru.

Dalam kesadaran itulah masyarakat Manokwari sesungguhnya tengah mengalami ‘sakit’ (krisis) identitas (jati diri). Mereka sedang mengalami –secara teknis- gegar budaya. Dan secara faktual, mereka sedang memasuki tahapan krisis hebat. Untungnya mereka segera menyadari dan meresponi dengan mencanangkan Manokwari sebagai Kota Injil yang secara simbolik (Hayakarya, dalam Mulyana dan Rahmat, 2005) adalah wahana sosial mereka di dalam membangun jati diri mereka.

 

Teori-teori Komunikasi Litas Budaya

Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya hubungan sosial dengan orang-orang lainnya, dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. (Porter & Samovar dalam Mulyana dan Rachmat, 2005).

Kegiatan berkomunikasi berfungsi (1) alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial, (2) alat untuk memanfaatkan berbagai sumberdaya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan, dan (3) alat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mendapatkan keanggotaan dan rasa memiliki dalam berbagai kelompok sosial yang mempengaruhi (Yong Yung Kim, dalam Mulyana dan Rahmat, 2005)

Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup, atau ‘tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, agama, peranan, obyek-obyek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu kelompok’. Budaya adalah pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Unsur-unsur sosial budaya yang mempengaruhi komunikasi anarbudaya antara lain persepsi, proses verbal, dan proses nonverbal (Ibid).

Karakteristik-karakteristik  budaya yang utama adalah: komunikasi dan bahasa, pakaian dan penampilan, makanan dan kebiasaan makan, waktu dan kesadaran akan waktu, penghargaan dan pengakuan, hubungan-hubungan, nilai dan norma, rasa diri dan ruang, proses mental dan belajar, kepercayaan dan sikap (Haris & Moran dalam Mulyana dan Rachmat, 2005). Karaktersitik-karakteristik itu penting diketahui oleh pihak-pihak yang berkomunikasi jika ingin mencapai hasil yang lebih produktif.

Bahasa menurut hipotesis Sapir-Whorf adalah unsur terpenting budaya karena bahasa menunjukkan pandangan dunia masyarakat pemakainya tentang lingkungan mereka. Bahasa mengarahkan persepsi para pemakainya terhadap hal-hal tertentu, ia memberi mereka cara-cara untuk menganalisis dan mengkategorikan pengalaman (Farb dalam Mulyana dan Rakhmat, 2005).

Peter & Samovar juga menegaskan bahwa ‘komunikasi antarbudaya terjadi dalam banyak ragam situasi yang berkisar dari interaksi-interaksi antara orang-rang yang berbeda budaya secara ekstrem hingga interaksi-interaksi antara orang-orang yang mempunyai budaya dominan yang sama tetapi memiliki subkultur atau subkeompok yang berbeda (ibid).

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi di antara dua pihak yang berasal dari budaya yang berbeda baik dari segi agama, suku, status sosial, tingkat intelektual, dan lain-lain.  Dewasa ini juga dikenal komunikasi antar.subbudaya, yakni jika suatu komunitas rasial, etnik, regional, ekonomi, atau sosial yang memperlihatkan pola perilaku yang membedakannyadengan subkultur.

Masalah utama dalam komunikasi anta rbudaya adalah kesalahan dalam persepsi sosial yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan budaya yang mempengaruhi proses persepsi.

Kunci sukses terciptanya komunikasi antara budaya adalah: tulus, jujur, memiliki sikap positif, menghilangkan hubungan superior-inferior, menekankan persamaan bukan perbedaan budaya (Porter & Samovar), enkulturasi sempurna, akulturasi (Yong Yun Kim), peka terhadap orang lain, waktu dan tempat yang tepat, penyesuaian diri/konformitas (Hall & White dalam Mulyana dan Rahmat, 2005), menjauhi etnosentrisme (Haris & Moran), asimilasi (Mulyana dalam Mulyana dan Rachmat, 2005), berempati (Bennet), menjadi manusia antarbudaya[2] (Gudyjunst & Young dalam Mulyana, Mulyana dan Rakhmat, 2005).

Budaya yang berbeda menetapkan aturan yang berbeda untuk mencapai hal yang sama (Noesjirwan). Menurut Noesjirwan (Mulyana dan Rahmat, 2005) ketika seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua tanda atau lambang pergaulan sosial lenyap. Ia akan kehilangan pegangan, frustasi dan kecemasan luar biasa. Terdapat empat tahap mentalitas akibat gegar budaya, yaitu a) tahap bulan madu, b) tahap krisis, c) tahap positif, dan d) tahap penyesuain diri lengkap.

Secara iman kristen, praksis lintas budaya adalah dialog tiga arah antara Allah, kebudayaan yang ada, dan diri kita  (Adeney, 2000). Dalam hal ini, KASIH merupakan dasar bagi proses komunikasi antarbudaya. Kasih adalah praksis dasariah yang merobohkan batas-batas dan hambatan-hambatan kebudayaan. Dengan menggunakan pengetahuan kebudayaan, dialog, dan hikmat, komunikasi antarbudaya bisa jauh lebih efektif. Baik secara struktural maupun enomenologis, perubahan identitas etnik dalam dinamika komunikasi antar budaya amat dimungkinkan, tergantung pada kepentingan-kepentingan parapihak yang berkomunikasi (Mulyana).

Bennet (dalam Mulyana dan Rachmat)  menyatakan bahwa etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budaya sendiri. Budaya sendiri dianggap   cenderung dilihat sebagai pusat alam semesta dan menomorduakan budaya lain, inilah akar rasisme yang sebenarnya (Blaunbaugh & Pennington dalam Bennet)

 

Faktor-faktor Timbulnya Gegar Budaya Masyarakat Manokwari

  1. Faktor Internal (yang berhubungan dengan in group mereka)

Dari deskripsi ‘Manokwari sekilas pintas’ nampak bahwa masyarakat Manokwari jelas kurang beruntung dalam berbagai hal: pendidikan, sosial, kesehatan, transportasi, komunikasi, politis, budaya, dan ekonomis. Dalam bidang pendidikan, jelas mereka sangat tertinggal dari saudara-saudara sesama bangsa Indonesia yang tinggal berbagai wilayah terutama Jawa. Penduduk tidak memiliki sarana prasarana belajar memadai sehingga sangat tergantung pada pendatang. Jika pendidikan kurang memadai pada sesuatu masyarakat maka daya saing mereka jelas sekali akan rendah, dan posisi tawar mereka juga melorot sehingga mereka menjadi budak-budak belaka. Meski telah terdapat dua perguruan tinggi, namun nampak bahwa putra-putra Manokwari menjadi warga kelas dua di tempat tinggal mereka sendiri.

Akibat sarana transportasi, komunikasi, dan kesehatan yang minim, jelas masyarakat Manokwari kalah dalam berbagai kompetisi meningkatkan tarah hidup mereka. Baik saat bersaing dalam mengusahakan alam maupun saat berkompetisi memenuhi rekruitmen pegawai ini-itu. Meski missi berhasil membawa mereka melihat dunia ini sepenuhnya ada kurun waktu 152 tahun ini, namun karena perhatian tidak cukup, maka tetap saja taraf penguasaan keterampilan mereka juga rendah.

Sebagai masyarakat tradisional, mereka lugu dan tulus menerima pengaruh dan kehadiran pihak lain termasuk mereka yang memiliki niat kurang tulus. Misalnya, terhadap budaya pelacuran, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, pornografi dan lain-lain yang notabene datang dari luar Manokwari masih saja diberi toleransi bahkan diterima sehingga menyebabkan dekadensi moral. Dari deskripsi memang hanya muncul dekadensi moral saja, namun sudah barang tentu termasuk juga kriminalitas, pengangguran, dan budaya snob lainnya.

Jika gegar budaya dideskripsikan dengan definisi ‘sakit mental’, maka masyarakat Manokwari sedang mengalami sakit itu terbukti mereka baru merespon sekarang ini padahal perilaku kurang menyenangkan yang mereka alami telah berlangsung cukup lama.  Sakit mental mereka yang utama berasal dari strain gagal mengendus proses peminggiran dan Islamisasi lebih awal sehingga kini menjadi seperti yang mereka saksikan. Mereka kaget, prihatin, marah, kehilangan jati diri, dan itu semua adalah tanda gegar budaya. Mereka asing di negeri mereka sendiri akibat gempuran budaya baru yang mendominasi mereka.

 

  1. Faktor Eksternal (yang berhubungan dengan out group mereka)

Secara eksternal, mereka termasuk bagian dalam puluhan ribu orang yang dibunuhi entah oleh siapa dan untuk tujuan apa. Mereka mejadi pihak yang ekstra inferior sehingga terinjak-injak, teraniaya, ditindas, meski masih bisa survive hingga saat ini. Islamisasi yang menjadi dasar lahirnya gagasan Manokwari Kota Injil jelas juga menjadi pihak yang dianggap mengancam eksistensi kepapuaan mereka. Pendatang-pendatang yang avonturis cenderung bersikap pragmatis sehingga tidak mempedulikan dampak buruknya bagi masyarakat Manokwari. Bahkan dengan alasan bisnis, produk-produk atau komuditas yang menafikan masyarakat Manokwari lebih dieksploitasi dengan cara didatangkan dari tempat-tempat di luar Manokwari.

Para pendatang dari wilayah Indonesia bagian Barat tentu saja adalah mereka yang tangguh dan teruji kualitas daya survivalnya sehingga mampu mencapai dan kemudian mendominasi kehidupan ekonomi-politi-budaya masyarakat Manokwari. Mereka bisa survive antara lain dengan ‘merampok’ penduduk Manokwari. Oleh karena kedatangan para pendatang dengan motif ekonomi (tersirat dari deskripsi, nampak juga ada motif lain yang menyertai), maka orientasi mereka hanya keuntungan (dalam arti sempit, terdapat selisih positif antara biaya kulakan dan dana hasil aktivitas ekonomi). Seringkali tanggung jawab sosial mereka abaikan. Inilah sumber ‘kehancuran’ moral dan mental masyarakat Manokwari yang kelak ketika disadari akan menjadi pemicu dan mesiu paling utama dalam proses penegakan jati diri dalam ekspresi ekstrem menetapkan Manokwari sebagai Kota Injil.

Dari kedua segi itu, nampak bahwa masyarakat Manokwari sedang dilanda wabah gegar budaya. Dimensi budaya yang mengalami gegar adalah dimensi-dimensi kesukuan, budaya lokal, bahasa, tata pergaulan kemasyarakatan, dan laina-lain. Bahkan satu-satunya benteng mereka, Injil, akan direnggut untuk dimusnahkan pula, maka mereka menganggap saatnya menegakkan diri untuk membangun Papua umumnya dan Manokwari khususnya.

 

Sumbangan Teori Komunikasi Lintas Budaya bagi Gegar Budaya Masyarakat Manokwari

Membandingkan antara aspek-aspek penting dalam ketiga tulisan yang dideskripsikan di depan, teori-teori komunikasi, dan pencanangan Manokwari sebagai Kota Injil, maka terdapat triangle relasional yang mungkin dibangun guna merumuskan sumbangan teori komunikasi mana yang layak dijadikan ortodoksi bagi otopraksis masyarakat Manokwari di tengah krisis dan dinamika komunikasi antar budaya yang sedang mereka alami. Berikut adalah sumbangan dimaksud:

  1. Terhadap masalah internal, teori komunikasi yang relevan digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul adalah: memetakan diri demi penemuan dan penguatan identitas diri mereka. Selanjutnya menemukan persamaan dan perbedaan antara budaya diri dan budaya pendatang demi mencapai sinkronisasi budaya ‘baru’ yang fungsional.
  2. Menerapkan dan mengkampanyekan kunci sukses komunikasi lintas budaya. Kunci sukses terciptanya komunikasi antara budaya adalah: tulus, jujur, memiliki sikap positif, menghilangkan hubungan superior-inferior, menekankan persamaan bukan perbedaan budaya (Porter & Samovar), enkulturasi sempurna, akulturasi (Yong Yun Kim), peka terhadap orang lain, waktu dan tempat yang tepat, penyesuaian diri/koformitas (Hall & White dalam Mulyana dan Rahmat, 2005), menjauhi etnosentrisme (Haris & Moran), asimilasi (Mulyana dalam Mulyana dan Rachmat, 2005), berempati (Bennet), menjadi manusia antarbudaya[3] (Gudyjunst & Young dalam Mulyana, Mulyana dan Rakhmat, 2005).
  3. Menemukan dan memurnikan kepentingan-kepentingan diri dan pendatang melalui pendekatankesetaraan bukan hubungan superior-inferior. Dalam hal ini landasan iman dalam ajaran-ajaran dan nilai-nilai kristiani patut dicobakan secara ketat dan terstruktur sedemikian rupa sehingga wajah Injil dinampakkan secara lebih positif.
  4. Menjauhkan diri dari godaan menjadi etnosentristis apalagi rasialis.
  5. Memperbaiki persepsi individual maupun sosial sehingga dijauhkan dari stereotip dan stigmatisasi apalagi apriori terhadap pihak lain. Masyarakat Manokwari perlu mendorong diri menjadi manusia atau komunitas antarbudaya.
  6. Untuk masalah eksternal (yang berhubungan dengan out group mereka), perlu dicari terobosan membangun komunikasi yang lebih produktif. Caranya bisa melalui pintu masuk berbagai bidang: ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain.
  7. Dengan mengingat karakteristik-karakteristik kebudayaan, para pendatang perlu dipahami segala aspek sesuai dengan anjuran teoretiknya.
  8. Dengan cara yang empatif, mengedepankan paradigma win-win solution (diadaptasi dari non superior-inferior), dan demi mencapai kepuasan masing-masing masyarakat Manokwari perlu mengemukakan baik jati dirinya maupun harapan-harapannya, keprihatinan maupun kekhawatiran mereka agar para pendatang mengetahui persis harus bagaimana terhadap masyarakat Manokwari. Harap diingat bahwa secara teoretik kegagalan komunikasi lintas budaya antara lain disebabkan oleh kegagalan transformasi pikiran-pikiran utama. Karena itu dengan dialog, pengenalan budaya liyan (the other), dan hikmah yang berasal dari Roh Kudus, pendatang akan dibantu untuk mencair menjadilebih Manokwari.

 

Gegar Budaya Masyarakat Manokwari dan Matra Missi

Fakta menunjukkan gegar budaya yang diatasi dengan pendekatan kekuasaan (win lose paradigm, hubungan superior-inferior, dominasi mayoritas, dan sejenisnya) dalam bentuk Ranperda Manokwari Kota Injil justru kontraproduktif baik bagi masyarakat Manokwari  maupun kelak pasti juga bagi umat Kristen di luar Manokwari. Jika dikaitkan dengan kesaksian iman kristen atau misi, terdapat beberapa hal yang kontraproduktif, yaitu:

  1. Pendekatan kekuasaan demikian jelas memperburuk keadaan dan berpotensi ‘dibalas’ bahkan dengan lebih kejam baik kepada masyarakat Manokwari maupun yang di luarnya.
  2. Mempertahankan eksistensi Injil di Manokwari maupun di manapun memang perlu dan harus selalu dilakukan oleh Kristen sejati, namun tetap dalam koridor kasih yang memungkinkan pertobatan dan penguatan iman berlangsung secara damai dan memberikan kelegaan bagi semua pihak.
  3. Dalam sejarah penginjilan memang pernah digunakan pendekatan kekuasaan, yaitu setelah Barat kalah dalam Perang Salib dan beralih menjadi para penjajah dengeri-negeri Timur. Namun kita bersama mengetahui kekristenan macam apa yang dipahami, dipraktikan dan dikembangkan oleh masyarakat Kristen di daerah-daerah hasil penginjilan itu.
  4. Dalam dunia yang mengglobal dan dengan kesadaran bahwa semua makhluk tinggal di bumi yang sama (ingat Knitter), sudah waktunya didorong dengan lebih kuat untuk hidup damai satu sama lain. Jika pihak non-Kristen masih menggunakan paradigma lama, kita yang Kristenlah yang wajib mengajak mereka lebih santun, terhormat, dan berbudaya dalam mengamalkan hidup beragama.
  5. Misi utama dalam situasi Manokwari yang demikian adalah konsolidasi iman baik bagi diri sendiri, anggota keluarga, gereja, dan masyarakat pada umumnya. Menjadikan nilai-nilai Kristen sebagai landasan gaya hidup (lifestyle) sehingga menjadi kesaksian yang hidup dan yang berkenan bagi Allah Bapa.
  6. Pencanangan Manokwari sebagai Kota Injil memang perlu dan patut didukung namun perlu dipikirkan waktunya yang tepat. Baiklah jika dimulai dari Aku manusia Injil sepenuhnya yang hidup dan kehidupanku adalah hidup dan kehidupan injili dan dengan demikian terjadi missi dengan sendirinya.
  7. Gereja dan lembaga misi rupanya perlu  menjadi benteng terakhir sekaligus motor penggerak bagi upaya-upaya misioner yang terarah pada perbaikan iman individu sehingga bisa diwujudkan Manowari Kota Injil dalam arti sebenarnya bukan sekadar dalam aturan formal.

Berdasarkan telaah sederhana tersebut, dapat disimpulkan bahwa sumbangsih teori-teori Komunikasi Lintas Budaya jelas nyata dalam realitas hidup masyarakat Manokwari. Jika terdapat misionaris yang mampu dan mau menggunakan teori-teori tersebut secara luas bersama-sama dengan masyarakat Manokwari, tentulah akan didapat dampak yang lebih baik lagi. Setidaknya, Manokwari Kota Injil mendapatkan pemaknaan dan bentuknya yang  baru.

Sekadar rekomendasi, studi atau penelitian ini masih sangat periferial dan artifisial. Sehingga,  diperlukan studi-studi lanjutan (terutama studi lapangan) yang lebih mendalam dan komprehensif. Studi ini perlu dikomunikasikan dan diperbincangkan dalam area atau forum yang luas di kalangan intelektual agar didapat kesempurnaan bagi ortodoksi membantu masyarakat Manokwari yang Injili.

 

Daftar Pustaka

Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, Cetakan kesembilan, Januari 2005.

Bernard T Adeney, Etika Sosial Lintas Budaya, Yogyakarta, Kanisius, 2000.

H. Richard Niebuhr, Kristus dan Kebudayaan, Jakarta, Yaysan Satya Karya, tt. Terbit.

Kuntjoro, Sardius, Pdt., M.th. (Ed), 1984, Pelayanan Kasih dan Kemanusian yang Adil dan Beradab, Surakarta: INRI YBKS

Rapid social Change Study, 1968, The Church and Social Change, Dodoma: CCT

Buletin LPK, 1990, Tugas Panggilan Gereja di Tengah-Tengah Dunia, Yogyakarta: LPK

Van Doorn., C.L., Dr., 1951, Gospel & Social justice. With Particular Reference to Comunism, Rangoon: WSCF.

Winata Sairin, Pdt., M.Th., (Ed), 1994, Persebaran Firman di Sepanjang Zaman, Jakarta: BPK GM

 


[1] Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, Nomor 10, Jakarta, Cipta Adi Pustaka, 1990, h. 145-147.

[2] Menurut Gudykunst dan Young, manusia antarbudaya adalah  orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam proses antarbudaya yang kognisi, afeksi, dan perilakunya tidak terbatas, tetapi terus berkembang melewati parameter-parameter psikologi suatu budaya. Manusia antar budaya adalah manusia yang berhasil menyesuaikan dirinya baik dengan orang yang didatanginya atau orang  yang mendatanginya dan survive dalam realitas barunya itu.

[3] Menurut Gudykunst dan Young, manusia antarbudaya adalah  orang yang telah mencapai tingkat tinggi dalam proses antarbudaya yang kognisi, afeksi, dan perilakunya tidak terbatas, tetapi terus berkembang melewati parameter-parameter psikologi suatu budaya. Manusia antar budaya adalah manusia yang berhasil menyesuaikan dirinya baik dengan orang yang didatanginya atau orang  yang mendatanginya dan survive dalam realitas barunya itu.

Contact Map Module


Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/onlineministry/public_html/modules/mod_contactmap/tmpl/default.php on line 4